MERAWAT BATIK

  • Untuk mencuci batik, gunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik, biasanya Berupa Sabun Lerak (Sabun yang terbuat dari buah Lerak) atau jika terpaksa tidak ada lerak, pakai shampo rambut yang dicampur dengan air, jangan gunakan deterjen biasa yang mengandung soda
  •  Hindari mencuci dengan deterjen pakaian biasa, menggunakan mesin cuci dan jangan disikat. Bila ada noda kotor, usap bagian yang kotor saja menggunakan kulit jeruk.
  • Jangan diperas, jangan dijemur di bawah sinar matahari langsung, rapikan lipatan-lipatannya saat diangin-angin agar mengurangi penggunaan setrika untuk merapikan batik.
  • Hindari menyemprot bahan pewangi yang mengandung bahan kimia keras. Hindari Menyetrika Batik, jika terpaksa, lakukan dengan melapisi kertas koran pada Batik
  • Masukkan batik anda pada tempat yang tidak lembab dan terlalu kering, kurangi penggunaan kapur barus/ bahan kimia sejenisnya.

Batik Mlati Jogja

www.batikmlati.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pembuatan Zat Warna Alam Indigofera / Nila

Dahulu kala, menurut Sejarah Batik di Indonesia, pewarnaan Batik tidak dilakukan menggunakan bahan pewarna kimia/sintetis seperti beberapa proses pewarnaan sintetis yang dilakukan oleh pabrikan kain/tekstik saat ini. Pembatik jaman dahulu memanfaatkan Tumbuh-tumbuhan untuk diambil zat warna nya, sehingga sifat kain batik yang tercipta adalah ramah terhadap lingkungan maupun pada kulit manusia. Tumbuh-tumbuhan yang digunakan juga bervariasi, ada jenis-jenis tumbuhan yang diambil batangnya, kulitnya, buahnya, hingga pada daunnya.
Indigofera adalah salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk mewarnai Batik Zat Warna Alam. Kandungan zat warna yang terdapat di dalamnya memiliki karakter warna biru-hijau, tergantung fiksatornya. Proses pengambilan zat warna dari tanaman indigofera ini tidak mudah, harus melalui tahapan yang tidak sederhana. Tahapan tesebut bisa disimak pada penjelasan berikut ini :

A. BUAT DULU PASTA INDIGOFERA

Cara membuat pasta indigo : (untuk pembuatan 1kg pasta)

  1. Pilih daun Indigo yang segar (kurang lebih 7-9kg)
  2. rendam daun indigo segar dalam air (usahakan daun indigo benar2 terrendam air) selama 2 hari
  3. Saring larutan yang terbentuk, tuangkan pada bak/ember yang berbeda
  4. Masukkan Air Kapur, lalu lakukan proses pengkeburan/aerasi (bisa dilakukan dengan cara mengambil larutan dengan gayung lalu menuangkan larutan kembali ke ember dari ketinggian hingga menimbulkan buih2). Proses Pengkeburan/aerasi ini dilakukan hingga buih2 yang tercipta menghilang, dan larutan hijau berubah menjadi biru.
  5. Kembali diamkan larutan biru yang tercipta selama satu hari hingga tercipta endapan berwarna biru pekat.
  6. buang larutan bening diatasnya, ambil endapan berwana biru di bagian bawah yang sudah menjadi Pasta Indigo.

B. BUAT LARUTAN PEWARNA DARI PASTA

Pasta Indigo yang terbentuk sudah siap digunakan untuk mewarnai, caranya adalah sebagai berikut :

  1. Campur 1kg Pasta indigo dengan 5lt air, larutkan
  2. Tambahkan Kapur dan Gula Jawa / Gula Aren / Gula Legen, dll dengan perbandingan 1:1 (bisa juga 2:1, tergantung eksperimen dan arah warna yang dihasilkan) . Catatan: Gula dilarutkan dahulu dengan cara direbus dengan air secukupnya
  3. Diamkan larutan selama setengah hari (kurang lebih 12 jam) hingga larutan berwarna hijau.
  4. Larutan Indigo Siap digunakan untuk mencelup/mewarnai kain

Sumber : Instruction Brochure “Pewarnaan Batik Dengan Zat Warna Alam Indigo” produk Kementerian Perindustrian RI, Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta (2010) (http://www.batikmlati.com)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

`Batik` Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia

(16 Sept. 2011) Batik banyak mencerminkan aspiasi budaya masyarakat dimana batik dibuat. Nilai-nilai, filosofi, budaya tertentu atau obyek suatu daerah sering tergambar pada pada motif kain batik.

Ketika bicara batik sebagai warisan budaya Indoesia, maka batik telah menjadi sebuah produk budaya yang bisa menjadi media untuk melihat kekayaan budayaIndonesia lainnya..

Kali ini batikpohon menjadikan batik, tentu saja batik warna alam (natural dyes batik), sebagai media untuk mendokumentasikan empat warisan budaya Indonesia non benda yang mendapat pengakuan dunia internasional. Melalui batik dengan motif yang diberi nama Catur Budaya ini (seorang budayawan – Ki Dawud Budiyatno dari Semarang, memberinya nama karya batikpohon ini Kahuripan), diharapkan jadi pengingat dan pembuka pemahaman tentang tingginya nilai empat warisan budaya Indonesia, yaitu Batik, Angklung, Keris dan Wayang.

Dibingakai dengan komposisi antara motif ceplok dan pisanbali, batik Catur Badaya atau Kahuripan ini diwarna dengan dua pilihan bahan pewarna alami. Satu diwarnai menggunakan rebusan kulit kayu mahoni sehingga menghasilkan warna coklat kemerahan. Sedangkan yang lain menggunakan rebusan kulit buah Jalawe yang memunculkan nuansa warna krem kehijauan

Batik pohon mengajak semuanya agar menjadikan batik dengan pewarna alami sebagai alternatif pilihan. Karena ada sebuah keyakinan dengan memilikinya dan mengapresiasi varian batik ini, maka setidaknya akan memberi kesempatan pengembangannya. Pada gilirannya nanti, sedikit demi sedikit akan mempertinggi originalitas warisan budaya ini karena batik warna alam memiliki muatan lokal yang lebih banyak. Proses pembuatannya pun lebih ramah lingkungan, karena kadar pencemaran air dan tanah yang ditimbulkan relatif rendah.

Batikpohon menawarkan pilihan, lebih dari sekadar motif dan warna, tapi juga pilihan cara mencintai batik sebagai warisan tradisi dan cara ikut mencintai bumi Indonesia. (Sumber batikpohon.com)

Posted in Uncategorized | Leave a comment